Pengalaman Apply Visa Jepang di JVAC

Dokumen perjalanan yang satu ini memang kadang bikin kita nervous duluan!

kernel-panic

4 minute read

Bicara soal Jepang, negara yang satu ini merupakan salah satu negara yang sangat ingin saya kunjungi dari dulu. Dan akhirnya, pada tahun ini (2018), saya berkesempatan untuk mengunjunginya.

Visa Jepang

Ngomongin Visa, dokumen perjalanan yang satu ini terkadang memang bikin kita malah nervous duluan. Belum apa-apa udah dag-dig-dug duluan, dan kalo Visa nya ditolak, nggak ada indikator pasti apa yang bisa menyebabkan permohonan visa kita ditolak.

Memang sekarang udah bebas ke Jepang untuk pemegang e-Passport Indonesia menggunakan Visa Waiver dan apply-nya pun cukup simple. Tapi berhubung saya masih pemegang Passport biasa, jadilah harus mengurus permohonan Visa Jepang.

Oh iya, pengurusan Visa Jepang ini hanya akan diproses di Konsulat yang sesuai dengan wilayah yurisdiksi masing-masing (klik di sini untuk melihat wilayah yurisdiksi). Karena KTP saya domisilinya di Tasikmalaya, Jawa Barat, jadi saya apply Visa Jepang nya di Jakarta. Dan per 15 September 2017, pengurusan Visa Jepang yang di Jakarta ini di Japan Visa Application Center (JVAC) VFS Global, Lotte Shopping Avenue Lantai 4.

Untuk apply di JVAC ini sebelumnya kita bisa buat janji dulu/appointment atau walk-in langsung. Tapi biar menghemat waktu, waktu saya apply saya buat janji dulu, karena nomor antrean akan diutamakan bagi yang sudah membuat janji terlebih dahulu juga biar gak ngabisin waktu banyak pas disana.

Dokumen

Lalu, apa saja sih yang harus dipersiapkan untuk mengurus visa Jepang ini? Persyaratan lengkapnya bisa dilihat di situs Kedutaan Jepang, sesuai dengan keperluan kalian.

Waktu saya apply itu saya merujuk pada persyaratan yang “Kunjungan Wisata dengan Biaya Sendiri”. Tapi dokumen yang saya bawa waktu apply Visa Jepang agak sedikit berbeda, yaitu:

  1. Passport yang masih berlaku.
  2. Formulir permohonan yang di unduh dari situs kedutaan Jepang. Pastinya sudah dilengkapi/diisi beserta pas foto terbaru ukuran 4,5x4,5cm berlatar putih, dominan wajah tapi tampak bahu juga sedikit.
  3. Foto kopi KTP dalam kertas A4, bukan seukuran KTP.
  4. Bukti pemesanan tiket penerbangan pergi dan pulang.
  5. Itinerary dengan tabel yang juga di download dari situs kedutaan, yang juga sudah diisi.
  6. Rekening koran 3 bulan terakhir yang saya print sendiri dari menu e-Statement Internet Banking BCA (waktu saya apply Visa Jepang ini, saldo yang ada di rekening pas print rekening korannya itu kurang lebih Rp 15 jt’an).
  7. Surat dari kantor tempat saya bekerja dalam Bahasa Inggris. Ini untuk menerangkan bahwa yang bersangkutan bekerja di kantor tersebut dan akan kembali ke Indonesia seusai liburan.
  8. Print out bukti pemesanan hotel.

Di hari yang dijanjikan, saya memeriksa lagi semua dokumen dan disusun sesuai urutan. Waktu itu saya membuat janji di jam 09.30 dan jam 09.20 saya sudah sampai di tempat karena baru boleh masuk 15 menit sebelum waktu perjanjian.

Setelah sampai, saya pun melewati security check dan meminta nomor antrean dengan menunjukkan form janji temu yang sudah diprint. Waktu mau masuk ke ruangan, Bapak Security-nya mengingatkan saya bahwa ponsel di silent mode dulu.

Nomor Antrian

Pas masuk ke dalam, lumayan sepi. Di sana ada meja-meja pelayanan dan kursi untuk menunggu, dan konternya juga terpisah antara pengajuan perorangan dan agen. Baru duduk sebentar, nomor antrean saya dipanggil, langsung menuju counter yang dimaksud. Oh iya, panggilan nomor antreannya dalam Bahasa Inggris.

Sampai di meja pelayanan, mbaknya langsung menyapa ‘Selamat Pagi’ dan meminta dokumen saya. Setelah itu, mbaknya memeriksa kelengkapan data dan dokumen serta menanyakan beberapa hal, seperti ‘Perginya sendirian aja, mas?’ dan pertanyaan standar lainnya. Lalu, mbaknya menginformasikan bahwa persetujuan visa sepenuhnya tergantung pada keputusan pihak kedutaan dan biasanya perlu waktu 4 hari kerja.

Waktu itu saya apply pada hari Kamis (23 Agustus 2018), mbaknya bilang hari Selasa depan (28 Agustus 2018) Passport saya sudah bisa diambil. Setelah itu saya menanyakan untuk ke Tasikmalaya apakah bisa menggunakan kurir, dan mbaknya cek dulu. Setelah di cek, untuk Tasikmalaya bisa menggunakan kurir, dan saya pun meminta nanti Passportnya dikirim menggunakan kurir saja karena jarak Tasikmalaya-Jakarta itu jauuuuh kalo saya harus bulak-balik Tasikmalaya-Jakarta lagi buat ngambil Passport doang.

Untuk menggunakan jasa kurir ini, saya dikenakan biaya Rp 50.000 (hitungannya per Passport) karena Tasikmalaya masuk dalam Zona 1 (informasi selengkapnya mengenai layanan tambahan seperti kurir silahkan klik disini). Setelah mengisi data untuk kurir, dokumen saya dimasukkan dalam map besar dan diminta untuk diproses ke loket pembayaran.

Lalu saya menuju ke ruang tunggu depan loket pembayaran, duduk sebentar, dan dipanggil lagi dengan nomor antrian yang sama. Habis bayar, udah selesai. Ternyata gak ribet dan keseluruhan prosesnya kurang lebih 10 menit kalau semua dokumennya sudah rapi dan lengkap.

Setelah itu, saya pun melewati hari dag-dig-dug nungguin hasilnya.

Hari Kedatangan Passport

Setelah hari-hari berlalu, pada hari Kamis (30 Agustus 2018) saya menerima paket berisi Passport saya.

Disertai rasa penasaran, deg-degan, dan perasaan campur aduk lainnya, saya pun membuka paket tersebut lalu mengecek isi Passport. Syukur Alhamdulillah, Visa Jepang sudah menempel cantik di Passport saya.

Visa Jepang

Visa Jepang yang saya punya ini berlaku untuk satu kali kunjungan, paling lama 15 hari dan hanya dapat digunakan hingga 3 bulan ke depan.

comments powered by Disqus
IBX5A64AA703D3C9